Variable Length Subnet Mask (VLSM)
Pengertian VLSM
VLSM (Variable Length Subnet Mask) adalah metode subnetting di mana ukuran atau panjang subnet mask bisa berbeda-beda untuk tiap subnet, tergantung kebutuhan jumlah host di masing-masing subnet tersebut.
Dengan kata lain, jika kamu memiliki satu jaringan besar dan ingin membaginya menjadi beberapa subnet dengan jumlah host yang berbeda, maka dengan VLSM kamu dapat memilih subnet mask yang paling sesuai untuk tiap bagian — tidak harus semua subnet memiliki ukuran yang sama.
Contohnya, jika satu subnet hanya membutuhkan sekitar 10 host dan subnet lainnya membutuhkan 200 host, maka kamu tidak perlu memberikan keduanya subnet mask yang besar yang sama (yang akan memboroskan alamat IP). Dengan VLSM, kamu bisa memberikan subnet kecil mask yang lebih besar (misalnya /28), dan subnet besar mask yang lebih kecil (misalnya /24).
Mengapa VLSM Penting dan Manfaatnya
Beberapa manfaat utama menggunakan VLSM dalam pengaturan alamat IP adalah sebagai berikut:
-
Efisiensi alamat IP – Karena panjang mask bisa disesuaikan, maka jumlah alamat IP yang terbuang dapat diminimalkan.
-
Fleksibilitas desain jaringan – Tiap subnet dapat dibuat dengan ukuran berbeda sesuai kebutuhan jaringan masing-masing bagian.
-
Mengurangi pemborosan dalam jaringan besar – Pada jaringan yang memiliki banyak subdivisi, seperti antar departemen atau lokasi berbeda, VLSM membantu agar blok IP tetap optimal dan efisien.
-
Dukungan protokol routing modern – Protokol seperti OSPF, RIP v2, dan EIGRP mendukung route dengan prefix berbeda sehingga VLSM dapat diterapkan dengan efektif.
Cara Kerja dan Langkah-Langkah Penerapan VLSM
Untuk menerapkan VLSM, dilakukan beberapa langkah sistematis agar hasil subnetting akurat dan tidak tumpang-tindih.
Langkah-langkah umumnya:
-
Tentukan kebutuhan jumlah host untuk setiap subnet (misalnya subnet A membutuhkan 120 host, subnet B 30 host, subnet C 10 host).
-
Urutkan kebutuhan host dari yang terbesar ke yang terkecil untuk mempermudah alokasi blok IP.
-
Alokasikan blok IP pertama untuk subnet dengan kebutuhan host paling besar, dengan subnet mask yang sesuai.
-
Gunakan sisa alamat IP untuk subnet berikutnya, menggunakan subnet mask yang lebih besar (yang berarti jumlah host lebih sedikit).
-
Pastikan tidak terjadi tumpang-tindih (overlap) antara subnet satu dengan lainnya.
-
Verifikasi bahwa semua perangkat jaringan dan protokol routing mendukung penggunaan prefix berbeda (classless routing).
Contoh Penerapan VLSM
Misalnya kita memiliki network besar 192.168.1.0/24, dan ingin membaginya menjadi tiga subnet:
-
Subnet 1: 50 host
-
Subnet 2: 30 host
-
Subnet 3: 10 host
Dengan VLSM, kita dapat melakukan pembagian seperti berikut:
-
Untuk 50 host → gunakan /26 (62 host valid) → 192.168.1.0/26
-
Untuk 30 host → gunakan /27 (30 host valid) → 192.168.1.64/27
-
Untuk 10 host → gunakan /28 (14 host valid) → 192.168.1.96/28
Dengan demikian, setiap subnet mendapatkan jumlah IP yang cukup tanpa pemborosan alamat.
Perbedaan VLSM dengan FLSM
Metode Fixed Length Subnet Mask (FLSM) menggunakan subnet mask yang sama untuk semua subnet dalam satu jaringan. Akibatnya, setiap subnet memiliki jumlah host yang sama, meskipun kebutuhannya berbeda-beda.
Sedangkan VLSM memungkinkan penggunaan mask berbeda antar subnet, sehingga jauh lebih efisien dan fleksibel untuk desain jaringan modern.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam VLSM
-
Rencanakan alokasi subnet dari kebutuhan host terbesar ke terkecil untuk mencegah overlap alamat.
-
Pastikan perangkat dan routing yang digunakan mendukung classless routing (seperti OSPF atau EIGRP).
-
Dokumentasikan hasil subnetting dengan baik — termasuk network ID, broadcast, dan range host setiap subnet.
-
Sisakan ruang (spare IP) untuk pertumbuhan jaringan di masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar